Mata Kuliah Bahasa Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

 

1.1      Latar Belakang

           Bahasa terbentuk dari tataran gramatikal, yaitu dari tataran terendah sampai yang tertinggi adalah kata, frase, klausa dan kalimat. Dalam Bahasa Indonesia sendiri kata terbagi menjadi dua yaitu kata baku dan kata tidak baku. Dalam penulisan dan pengucapan kata harus jelas sesuai kaidah-kaidah yang telah ditetapkan  agar dapat dimengerti dan difahami dengan baik oleh orang lain.
           Harus diakui saat ini orang sering mengesampingkan pentingnya  penggunaan bahasa,  terutama  dalam tata cara  pemilihan kata atau diksi. Kita pun sering mengalami kesalahan. Hal itu terjadi karena kita tidak mengetahui pentingnya menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan diksi sangat penting agar terciptanya komunikasi yang efektif. Hal itu agar terciptanya komunikasi yang efektif dan efisien dan untuk menghindari kesalah pahaman saat berkomunikasi.
           Dalam menulispun kita dituntut untuk memilih kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya agar pembaca dapat memahami maksud yang diutarakan. Dalam hal ini pemahaman tentang diksi sangat berperan penting untuk tujuan tersebut.

1.2      Rumusan Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain :

1.       Apa pengertian diksi?
2.       Bagaimana menggunakan ketepatan kata, kesesuaian kata, dan perubahan makna?
3.       Apa yang dimaksud dengan denotasi, konotasi, sinonim, dan idiomatik?
4.       Apa yang dimaksud dengan kata abstrak, kata konkret, kata umum, dan kata khusus?
5.       Apa yang dimaksud dengan kata baku dan non baku?
6.       Macam-macam diksi (homonim, homofon, dan homograf)?

1.3      Tujuan


Berdasarkan rumusan masalah di atas, pembahasan materi dari makalah ini bertujuan untuk :
1.       Untuk memenuhi tugas matakuliah bahasa Indonesia.
2.       Untuk menambah wawasan penulis serta pembaca tentang  diksi dan definisi.
3.       Untuk memahami cara-cara pengunaan kata yang baik.

1.4           Metode Penulisan

Penulisan makalah ini melalui prosedur studi pustaka, baik media buku maupun internet. Semua informasi dan gagasan yang telah diperoleh dalam makalah ini, kami gabungkan menjadi satu kesatuan dan menyeluruh, untuk menjelaskan makalah kami tentang hukum termodinamika kedua, sehingga kami dapat menarik kesimpulan dari intisari pembahasan makalah ini.

BAB II PEMBAHASAN

2.1      Pengertian Diksi

Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Diksi bisa diartikan juga sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita. 
Gaya bahasa ditentukan oleh ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Kalimat, paragraf, atau wacana menjadi efektif jika dieksprikan dengan gaya bahasa yang tepat. Gaya bahasa mempengaruhi terbentuknya suasana, kejujuran, kesopanan, kemenarikan, tingkat keresmian, atau realita.  Gaya resmi misalnya dapat membawa pembaca atau pendengar ke dalam suasana serius dan penuh perhatian. Suasana tidak resmi mengarahkan pembaca atau pendengar ke dalamsituasi rileks tapi efektif. Gaya percakapan membawa suasana ke dalam situasi realistis.
Selain itu, pilihan dan kesesuaian kata yang didukung dengan tanda baca yang tepat dapat menimbulkan nada kebahasaan, yaitu sugesti yang terekspresi melalui rangkaian kata yang disertai penekanan mampu menghasilkan daya persuasi yang tinggi. Gaya bahasa berdasarkan nada yang dihasilkan pilihan kata ini ada tiga macam, yaitu:
1.       Gaya bahasa bernada rendah (gaya sederhana) menghasilkan ekspresi pesan yang mudah dipahami oleh berbagai lapisan pembaca, misalnya dalam buku-buku pelajaran,  penyajian fakta, dan pembuktian.
2.       Gaya bahasa bernada menengah, rangkaian kata yang disusun berdasarkan kaidah sintaksis dengan menimbulkan suasana damai dan kesejukan, misalnya: dalamseminar, kekeluargaan, dan kesopanan.
3.       Gaya bahasa bernada tinggi mengekspresikan maksud degnan penuh tenaga, menggunakan pilihan kata yang penug vitalitas, energi, dan kebenaran universal. Gaya ini menggunakan kata- kata yang penuh keagungan dan kemuliaan yang dapat menghanyutkan emosi pembaca dan pendengarnya. Gaya ini sering digunakan untuk menggerakkan massa dalam jumlah  yang sangat banyak.




2.2      Ketepatan Kata


Diksi adalah ketetapan pilihan kata. Penggunaan ketepatann pilihan kata ini dipengaruhi oleh kemampuan pengguna bahasa yang terkait dengan kemampuan mengetahui, memahami,   menguasai
dan menggunakan sejumlah kosa kata secara aktif yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat sehingga mapu mengomunikasikannya secaraefektif kapada pembaca dan pendengarnya. Indicator ketepatan kata ini, antara lain:
1.       Mengomunikasikan gagasan berdasarkan pilihan kata yang tepat dan sesuai berdasarkan kaidah bahasa Indonesia.
2.       Menghasilkan komunikasi puncak (yang paling efektif) tanpa salah penafsiran atau salah makna.
3.       Menghasilkan respon pembaca atau pendengar sesuai dengan harapan penulis atau pembicara.
4.       Menghasilkan target komunikasi yang diharapkan.

Selain pilihan kata yang tepat, efektivitas komunikasi menurut persyaratan yang harus dipenuhi oleh penggunga bahasa, yaitu kemampuan memilih kata yang sesuai dengan tuntutan komunikasi.
Syarat-syarat ketepatan pilihan kata:

1.             Membedakan makna denotasi dan konotasi dengan cermat, denotasi yaitu kata yang bermakna lugasdan tidak bermakna ganda. Sedangkan konotasi dapat menimbulkan dapat menimbulkan makna yang bermacam-macam, lazim digunakan dalam pergaulan, untuk tujuan estetika, dan kesopanan.
2.             Memebedakan secara cermat makna kata yang hampir bersinonim, kata yang hampir bersinonom misalnya: adalah, ialah, yaitu, merupakan dalam pemakainnya berbeda-beda.
3.             Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaanya, misalnya: infrensi (kesimpulan) dan iterferensi (saling mempengaruhi), sarat (penuh, bunting), dan syarat (ketentuan).
4.             Tidak menafsirkan makna kata secara subjektive berdasarkan pendapat sendiri, jika  pemahaman belum dapat dipastikan, pemakaian kata harus menemukan makna yang tepat dalam kamus, misalnya: modern sering diartikan secara subjektive canggih menurut kamus modern berarti terbaru atau mutakhir; canggih berarti banyak cakap, suka mengganggu, banyak mengetahui, bergaya intelektual.
5.             Menggunakan imbuhan asing (jika diperlukan) harus memahami maknanya secara tepat, misalnya: dilegalisir seharusnya dilegalisasi, koordinir seharusnya koordinasi.
6.             Menggunakan kata-kata idiomatik berdasarkan susunan (pasangan) yang benar, misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan.
7.             Menggunakan kata umum dan kata khusus, secara cermat. Untuk mendapatkan pemahaman yang spesifik karangan ilmiah sebaiknya menggunakan kata khusus, misalnya: mobil (kata umum) corolla (kata khusus, sedan buatan toyota).
8.             Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat, misalnya: isu (berasal dari bahasa Inggris issue berarti publikasi, kesudahan, perkara) isu (dalam bahasa Indoenesia berarti kabar yang tidak jelas asal usulnya, kabar angin, desas-desus).
9.             Menggunakan dengan cermat kata bersinonim, misalnya: pria dan laki-laki, saya dan aku, serta buku dan kitrab) ; berhomofoni; misalnya bang dan bank, ke tahanan dan ketahanan); dan berhomografi (misalnya: apel buah, apel upacara; buku ruas, buku kitab)
10.      Menggunakan kata abstrak dan kata konkret secara cermat, kata abstrak (konseptual), misalnya: pendidikan, wirausaha, dan pengobatan modern) dan kata konkret atau kata khusus (misalnya: minggu, serapan, dan berenang).
2.3      Kesesuain Kata


Selain ketepatan pilihan kata itu, pengguna bahasa harus pula memperhatikan kesesuaian kata agar tidak merusak makna, suasana dan situasi yang hendak ditimbulkan, atau suasana yang sedang berlangsung.
Syarat kesesuaian kata:
1.       Menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak mencampuradukan penggunaannya dengan kata tidak baku yang hanya digunakan dalam pergaulan, misalnya: hakikat (baku) hakekat  (tidak baku), konduite (baku), kondite (tidak baku).
2.       Menggunakan kata yang berhubungan dengan nilai sosial engan cermat, misal: kencing (kurang sopan), buang air kecil (lebih sopan), pelacur (kasar), tunasusila (lebih halus).
3.       Menggunakan kata dengan nuansa tertentu, misalnya; berjalan lambat, mengesot, dan merangkak; merah darah, merah hati.
4.       Menggunakan kata berpasangan (idiomatik) dan berlawanan makna dengan cermat, misalnya: sesuai bagi (salah), sesuai dengan (benar), bukan hanya....melainkan juga (benar), bukan hanya
..... tetapi juga (salah), tidak hanya.... tetapi juga (benar)
5.       Menggunakan kata ilmiah untuk penulisan karangan ilmiah, dan komunikasi nonilmiah (surat- menyurat, diskusi umum ) menggunakan kata populer, misalnya: argumentasi (ilmiah), pembuktian (populer), psikologi (ilmiah), ilmu jiwa ( populer).
6.       Menghindarkan penggunaan ragam lisan (pergaulan) dalam bahasa tulis, misalnya: tulis, baca, kerja (bahasa lisan), menulis, menuliskan, membaca, bekerja, mengerjakan, dikerjakan (bahasa tulis).
Ketepatan kata terkait dengan konsep, logika, dan gagasan yang hendak ditulis dalam karangan. Ketepatan itu menghasilkan kepastian makna.  Sedangkan  kesesuaian  kata menyangkut   kecocokan
antara kata yang dipakai dengan situasi yang hendak diciptakan sehingga tidak mengganggu suasana batin, emosi, atau psikis antara penulis dan pembacanya, pembicara dengan pendengarnya. Misalnya: keformalan, keilmiahan, keprofesionalan, dan situasi tertentu yang hendak diwujudkan oleh penulis. Oleh karena itu, untuk menghasilkan karangan berkualitas, penulis harus memperhatikan ketepatan dan kesesuaian kata.
Penggunaan kata dalam surat, profosal, laporan, pidato, diskusi ilmiah, karangan ilmiah, dan lain- lain harus tepat dan sesuai dengan situasi yang hendak diciptakan. Dalam karangan ilmiah, diksi dipakai untuk menyatakan sebuah konsep, pembuktian, hasil pemikiran, atau solusi suatu masalah. Tegasnya, diksi merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas sebuah karangan. Pilihan kata yang tidak tepat dapat menurunkan kualitas karangan.
Memilih kata yang tepat untuk menyampaikan gagasan ilmiah menentukan penguasaan :
1.             Keterampilan yang tinggi terhadap bahasa yang digunakan
2.             Wawasan bidang ilmiah yang ditulis,
3.             Konsistensi penggunaan sudut pandang, istilah, baik dalam makna maupun bentuk agar tidak menimbulkan salah penafsiran
4.             Syarat ketepatan kata
5.             Syarat kesesuaian kata.

Fungsi diksi:
1.             Melambangkan  gagasan yang diekspresikan secara verbal.
2.             Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
3.             Menciptakan komunikasi yang baik dan benar.
4.             Menciptakan suasana yang tepat.
5.             Mencegah perbedaan penafsiran.
6.             Mencegah salah pemahaman.
7.             Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.


2.4      Perubahan Makna


Bahasa berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat pemakainya.
Pengembangan diksi terjadi pada kata. Namun, hal ini berpengaruh pada penyusunan kalimat, paragraph, dan wacana. Pengembangan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi. Komunikasi kreatif berdampak pada perkembangan diksi, berupa penambahan atau pengurangan kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu, bahasa berkembang sesuai dengan kualitas pemikiran pemakainya. Perkembangan dapat menimbulkan perubahan yang mencakup perluasan, penyempitan, pembatasan, pengaburan, dan pergeseran makna.
Faktor penyebab perubahan makna:

1.              Kebahasaan
Perubahan makna yang ditimbulkan oleh factor kebahasaan meliputi perubahan intonasi, bentuk kata, dan bentuk kalimat.
a.  Perubahan intonasi adalah perubahan makna yang diakibatkan oleh perubahan nada, irama, dan rekanan. Kalimat berita Ia makan. Makna berubah jika intonasi kalimat diubah, misalnya: Ia makan? Ia makan? Ia maakaaan. Perbedaan kalimat berikut ini diakibatkan oleh perubahan intonasi.
Paman teman saya belum menikah. Paman, teman saya belum menikah. Paman, teman, saya belum menikah. Paman, teman, saya, belum menikah.
b.  Perubahan struktur frasa: kaleng susu ( kaleng bekas tempat susu) susu kaleng (susu yang dikemas dalam kaleng), dokter anak (dokter spesialis penyakit anak) anak dokter (anak yang dilahirkan oleh orang tua yang menjadi dokter)
c.  Perubahan bentuk kata adalah perubahan makna yang ditimbulkan oleh perubahan bentuk.
tua (tidak muda) jika ditambah awalan ke- menjadi ketua, makna berubah menjadi pemimpin; sayang (cinta) berbeda dengan penyayang (orang yang mencintai); memukul (orang yang memukul) berbeda dengan dipukul (orang yang dikenai pukulan).
d.  Kalimat akan berubah makna jika strukturnya berubah. Perhatikan kalimat berikut ini:
1)              Ibu Rina menyerahkan laporan itu lantas dibacanya.
2)              Karena sudah diketahui sebelumnya, satpam segera dapat meringkus pencuri itu.
Kalimat pertama: salah bentuk kata sehingga menghasilkan makna Ibu ratna dibaca setelah menyerahkan    surat. (Aneh    bukan?)    kesalahan    terjadi    pada    kesejajaran     bentuk  kata menyerahkan dan diserahkan,seharusnya menyerahkan dibentuk pasif menjadi diserahkan.
2.        Kesejarahan
Kata perempuan pada zaman penjajahan Jepang digunakan untuk menyebut perempuan penghibur. Orang menggantinya dengan kata wanita. Kini setelah orang melupakan peristiwa tersebut menggunakannya kembali, dengan pertimbangan, kata perempuan lebih mulia disbanding kata wanita.
Perhatikan penggunaan kata yang bercetak miring pada masa lalu dan bandingkan degnan pemakaian pada masa sekarang.
Prestasi orang itu berbobot. (sekarang berkualitas)
Prestasi kerjanya mengagumkan. (Sekarang kinerja)

3.        Kesosialan
Masalah sosial berpengaruh terhadap perubahan makna. Kata gerombolan yang pada mulanya bermakna orang berkumpul atau kerumunan. Kemudian kata itu tidak digunakan karena berkonotasi dengan pemberontak, perampok, dan sebagainya.
Perhatikan kata-kata berikut: Petani kaya disebut petani berdasi Militer disebut baju hijat
Guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa
4.        Kejiwaan

Perubahan makna karena faktor kejiwaan ditimbulkan oleh pertimbangan:

a.  Rasa takut

b.  Kehalusan ekspresi

c.  Kesopanan

Misalnya pada masa Orde Baru, orang takut (khawatir) banyak utang (komersial) merupakan kinerja buruk bagi pemerintah, kata tersebut diganti dengan bantuan atau pinjaman. Padahal, utang (komersial) dan bantuan berbeda makna. Demikian pula, kata korupsi diganti dengan menyalahgunakan jabatan

Perhatikan contoh berikut:

a.       Tabu:

Pelacur disebut tunasusila atau penjaja seks komersial (PSK)
Germo disebut hidung belang

b.      Kehalusan (pleonasme) Bodoh disebut kurang pandai Malas disebut kurang rajin
c.        Kesopanan

Kekamar mandi disebut ke belakang Sangat baik disebut tidak buruk
5.        Bahasa Asing

Perubahan makna karena faktor bahasa asing, misalnya: tempat orang terhormat diganti dengan VIP.
Perhatikan contoh berikut ini:  Jalur kereta khusus disebut busway Kereta api satu rel disebut monorel
6.        Kata Baru

Kreativitas pemakai bahsa berkembang terus sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan tersebut memerlukan bahasa sebagai alt ekspresidan komunikasi. Kebutuhan tersebut mendorong untuk menciptakan istilah baru bagi konsep baru yang ditemukannya, misalnya: chip, server, download, website, dvd dan, sebagainya.


2.5     Denotasi dan Konotasi


Makna denotasi dan konotasi dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya nilai rasa. Kata denotasi lezim disebut sebagai berikut:
a.               Makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi (pengamatan) menurut penglihatan, penciuman, pendengaran,perasaan, atau pengalaman yang berhubungan dengan informasi (data) factual dan objektif.
b.              Makna sebenarnya, umpamanya, kata kursi yaitu tempat duduk yang berkaki empat (makna sebenarnya)
c.                  Makna lugas, yaitu makna apa adanya, lugu, polos,akna sebenarnya, bukan makna kias.

Konotasi berarti makna kias, bukan makna sebenarnya. Sebuah kata dapat berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma masyarakat tersebut. Misalnya: Megawati dan Susilo Bambang Yuhoyono berebut kursi presiden. Kalimat tersebut tidak menunjukkan makna bahwa Megawati dan Susila Bambang Yudoyono tarik-menatik kursi karena kata kursi berarti jabatan presiden.
Sebuah kata dapat merosot nilai rasanya karena penggunaannya tidak sesuai dengan makna denotasinya. Misalnya, kata kebijaksanaan yang bermakna denotasi kelakuan atau tindakan arif.
Dapat bahwa makna kata konotatif cenderung bersifat subjektif. Maka kata ini lebih banyak diginakan dalam situasi tidak formal, misalnya: dalam pembicaraan yang bersifat ramah tamah, diskusi tidak resmi, kekeluargaan, dan pergaulan.
Perhatikan contoh berikut:

1.             Penulis memanjatkan puji syukur atas selesainya laporan ini.
2.             Laporan anda belum memenuhi sasaran.

2.6     Sinonim


Sinonim ialah persamaan makna kata. Artinya dua kata atau lebih yang berbeda bentuk, ejaan, dan penguacapannya, tetapi bermakna sama. Misalnya: wanita bersinonim dengan perempuan.
Perhatikan contoh kata bersinonim berikut:

a.         Hamil, bunting

b.         Hasil, produksi, prestasi, keluaran

c.         Kecil, mikro, minor, mungil

d.         Korupsi, mencuri

e.         Strategi, teknik, taktik, siasat, kebijakan

f.           Terminal, halte, perhentian, stasiun, pangkalan, pos

Ketidakmungkinan menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersisonim disebabkan oleh beberapa alasan: waktu, tempat, kesopanan, suasana batin, dan nuansa makna. Perhatikan contoh berikut:
a.              Kesopanan, misalnya: saya, aku

b.             Nuansa makna, misalnya: melihat, melirik, melotot penginapan, hotel, motel, losmen.
c.              Waktu, misalnya: pasar hampir bersinonim dengan konsumen atau pelanggan. Pasar pada masa lalu berarti tempat orang berjual-beli, sedangkan pasar pada situasi masa sekarang, mengalami perluasan bukan hanya tempat berjual-beli, tetapi juga  berarti pemakai  produk,  konsumen, atau pelanggan.
Dua kata bersinonim atau hampir bersinonim tidak digunakan dalam sebuah frasa. Perhatkan contoh berikut:
a.       Kucing adalah merupakan binatang buas (salah) Kucing adalah binatang buas (benar)
Kucing merupakan binatang buas (benar)

b.       Kepada Yth. Bapak Nurhadi (salah)

Kepada Bapak Nurhadi (benar)

Yth. Bapak Nurhadi (benar)

2.7     Ideomatik


Ideomatik adalah penggunaan kedua kata yang berpasangan. Misalnya: sesuai dengan, disebabkan oleh, berharap akan, dan lain-lain. Pasana idiomatik kedua seperti ini tidak dapat digantikan dengan pasangan lain.
Contoh:

a.              Bangsa Indonesia berharap akan tampilnya seorang presiden yang mampu mengatasi berbagai kesulitan bangsa.
b.             Karyawan itu bekerja sesuai dengan aturan perusahaan.

Kata berharap akan (kalimat 1) tidak dapat diganti oleh mengharapkan akan atau berharap dengan. Begitu juga dengan idiomatik kalimat 2 dan idiomatik kalimat
2.8     Kata Umum dan Kata Khusus


Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang lingkupnya. Makin luas ruang suatu kata, makin umum sifatnya, sebaliknya, makan kata menjadi sempit ruang lingkupnya makin khusus sifatnya.
Makin umum suatu kata makin besar kemungkinan terjadi salah paham atau perbedaan tafsiran. Sebaliknya, makin khusus, makin sempit ruang lingkupnya makin sedikit terjadi salah paham. Dengan kata lain, semakin khusu makna kata yang dipakai, pilihan kata semakin sempit.
Contoh:

1.       Kata umum melihat, kata khusus melotot, melirik, mengintip, menatap, memandang.
2.       Kata umum berjalan, kata khusus tertatih-tatih, ngesot, terseok-seok, langkah tegap.
3.       Kata umum jatuh, kata khusus terpeleset, terjengkang, tergelincir, tersungkur, terjerembab, terperosok, terjengkal.
2.9      Kata Abstrak dan kata Konkrit


Kata abstrak mempunyai referensi berupa konsep, sedngkan kata konkrit mempunyai referensi objek yang dapat diamati. Pemakaian dalam penulisan bergantung pada jenis dan tujuan penulisan. Karangan berupa deskripsi fakta menggunakan kata-kata konkrit, seperti: hama tanaman penggerak, penyakit radang paru-paru, Virus HIV. Tetapi karangan berupa klasifikasi atau generalisasi sebuah konsep menggnakan kata abstrak, seprti: pendidkan usia dini, bahasa pemprograman, High Text Markup Language (HTML). Uraian sebuah konsep biasnya diawali dengan pembahasan umum yang menggunakan kata abstrak dilanjutkan engan detail yang menggunakan kata konkrit.
Contoh:

1.       APBN RI mengalami kenaikan lima belas persen (kata konkrit)
2.       Kebaikan (kata abstrak) seseorang kepada orangf lain bersifat abstrak. (tidak berwujud atau tidak berbentuk)
3.       Kebenaran (kata abstrak) pendapat itu tidak terlalu tampak






2.10     Macam-macam diksi (Homonim, Homofon, Homograf)


a.       Homonim

Homo artinya sama, nim berarti nama, jadi homonim adalah sama nama, sama bunyi tetapi beda makna, contoh : bandar sama dengan pelabuhan dan bandar bisa diartikan pemegang uang dalam perjudian.
b.       Homofon

Bunyi atau suara yang mempunyai sama, berbeda tulisan dan berbeda makna contoh : Bank : tempat menyimpan uang
Bang : panggilan untuk kakak laki-laki

c.       Homograf

Sama tulisan, berbeda bunyi dan berbeda makna, contoh :
Ular kobra itu bisanya mematikan

Aku bisa memastikan ayah tidak akan marah jika aku telat pilang karena latihan

2.11     Kata baku dan non-baku


Kata baku dan non-baku dapat dilihat berdasarkan beberapa  ranah seperti :

a.       Ranah finologis

Kata baku yang memiliki kata non-baku karena :

·         penambahan fonem

Kata baku
Kata non-baku
Imbau
Himbau
Andal
Handal
Utang
Hutang
·         pengurangan fonem

Kata baku
Kata non-baku
Terap
Trap
Terampil
Trampil
Tetapi
Tapi
Tidak
Tak
·         pengubahan fonem

Kata baku
Kata non-baku
Telur
Telor
Ubah
Obah
Tampak
Nampak


b.       Ranah morfologis

Kata baku yang memiliki kata nonbaku karena  hasil proses morfologis.

·         pengurangam fonem

Kata baku
Kata non baku
Memfokuskan
Memokukan
Memprotes
Memrotes
Memfitnah
Memitnah
·         pengubahan fonem

Kata baku
Kata non baku
Mengubah
Merubah
·         penggantian afiks

Kata baku
Kata non baku
Menangkap
Nangkap
Menatap
Natap
Mengambil
Ngambil
Menahan
Nahan

·         kelebihan fonem

Kata baku
Kata non baku
Beracun
Berracun
Beriak
Berriak
Beribu
Berribu
Becermin
Bercermin


c.       Ranah leksikon

Frasa baku
Frasa non-baku
Tidak terlalu
Tidak begitu
Belum masak
Belum matang
Tidak mau
Enggak mau
Hanya nasi
Nasi doing
Kata (frasa) baku yang memiliki kata (frasa) non-baku yang terdapat dalam ragam percakapan. Contoh  pasangan kata (frasa) baku dan kata (frasa) non-baku sebagai berikut








Selain menggunakan kalimat ragam formal, juga menggunakan ragam percakapan, contoh nya :

Frasa baku
Frasa non-baku
Waktu lain
Lain waktu
Amat besar
Besar amat
Amat mahal
Mahal amat
Pertama kali
Kali pertama




Dalam kalimat ragam formal, kita sering membuat kata-kata yang maknanya redundan. Artinya, kata-kata yang di gunakan sudah melebihi makna, contohnya :
Frasa baku
Frasa non-baku
Sangat pedih
Amat sangat pedih, amat pedih
Paling kaya
Paling terkaya







Dalam bahasa indonesia, karena adanya penyerapan bahasa asing atau bahasa daerah (sanskerta) terdapat pasangan kata baku dan non-baku. Maka harus memilih dan menggunakan kata serapan yang sudah di bakukan.

Kata baku
Kata non-baku
Apotek
Apotik
Asas
Azas
Asasi
Azasi
Analisis
Analisa




BAB lll
PENUTUP
3.1   Kesimpulan

Diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan. Dari pernyataan itu tampak bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi kegiatan berbahasanya, termasuk saat yang bersangkutan membuat karangan. Diksi dalam kalimat adalah pilihan kata yang tepat untuk ditempatkan dalam kalimat sesuai makna, kesesuaian, kesopanan, dan bisa mewakili maksud atau gagasan. Definisi adalah suatu pernyataan yang memberikan arti pada sebuah kata atau frase.


3.2   Saran


Dari penjelasan diatas ada saran yang ingin kami sampaikan, sebagai generasi penerus bangsa yang turut menyumbang dalam pembangunan bangsa, sebaiknya kita memperhatikan dengan seksama masalah diksi dan definisi, karena pengunaan kata yang baik dapat mempermudah kita menyampaikan tujuan yang kita maksud dan juga agar dapat lebih mudah dipahami. Amin…
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. https://id.wikipedia.org/wiki/Diksi
Hs, Widiono. 2005. Bahasa Indonesia (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Di Peruruan Tinggi). Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana.

Lanur, Alex. 1998. Logika Selayang Pandang. Yogyakarta: Kanisius. Mundiri. 1994. LOGIKA. Jakarta: Rajawali Press.W. Poespoprodjo, EK T Gilarso. 1999. Logika Ilmu Menalar : Dasar-dasar Berpikir Tertib, Logis, Kritis, Analitis, Dialektis. Bandung: Pustaka Grafika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UAS Audit Teknologi Informasi Menggunakan ACL

Web Service

Cara menjalankan kode Python dari dalam Visual Studio Code